0271-891186 pdbprs_srg@yahoo.com

MENCAPAI KHUSYU’ DALAM SHOLAT

Share it

Shalat merupakan aktivitas hati (jiwa), bukan aktivitas pikiran.

Shalat hakikinya merupakan komunikasi batin antara hamba dengan Tuhannya. Apabila hubungan batin (khusyu’) tidak terbangun maka shalat yang dilakukan tidaklah sempurna bahkan sia-sia karena komunikasi batin dengan Tuhan tidak terjalin.

Membangun khusyu’ dengan cara konsentrasi, menatap satu titik di tempat sujud, memahami arti bacaan, menghadirkan Allah didalam hati, dan sebagainya ternyata tidaklah mudah, atau sulit bahkan teramat sulit. Menatap titik ditempat sujud memang membantu agar pandangan mata tidak kemana-mana, akan tetapi tidak membantu mencegah pikiran untuk tidak kemana-mana.

Demikian pula dengan konsentrasi, mempraktekkan konsentrasi dalam shalat seperti mengarahkan anak panah dari busur menuju sasaran bidik rupanya juga kurang logis. Karena shalat itu sesungguhnya adalah aktivitas hati (jiwa), bukan aktivitas pikiran. Padahal konsentrasi adalah aktivitas pikiran. Ali bin Abi Thalib menjelaskan, “Khusyu tempatnya ada di hati. Ia adalah perasaan di dalam jiwa yang nampak dari anggota badan dalam bentuk ketenangan dan ketawadhukan. Khusyu merupakan buah dari kokohnya keyakinan di dalam hati terhadap pertemuan dengan Allah.”
Khusyu’ adalah kesadaran

Dalam QS Al-Baqaroh 45-46 disebutkan, bahwa orang yang khusyu itu adalah orang yang senantiasa yakin akan pertemuannya dengan Allah dan mereka akan kembali kepada-Nya. Keyakinan (akan pertemuannya dengan Allah) adalah sebuah “kesadaran” dengan sepenuh hati yang ada didalam jiwa.

Secara sederhana khusyu’ adalah sebuah “kesadaran”. Sehingga shalat yang khusyu’ adalah shalat yang dilakukan dengan penuh kesadaran bahwa setiap sikap dan gerakan merupakan komunikasi batin dengan Allah SWT.

Empat hal untuk mencapai khusyu’

Khusyu’ adalah aktivitas hati yang dapat dibangun dengan 3 hal, yang kesemuanya berkaitan dengan kesadaran batin atau jiwa, yaitu: sadar, pasrah, dan nyambung. Karena khusu’ harus berlangsung sepanjang aktivitas shalat, maka kesadaran batin itu harus dipertahankan dan dibangun kembali di setiap sikap dalam rukun shalat, baik berdiri, duduk, ruku’ dan sujud. Aktivitas ini disebut tuma’ninah. Sehingga tuma’ninah sebenarnya merupakan aktivitas untuk membangun kembali kesadaran batin dengan 3 hal itu.

Dengan demikian maka untuk mencapai khusyu’ sepanjang shalat dapat dilakukan dengan empat hal, yaitu Sadar, Pasrah, Nyambung, dan Tuma’ninah.

Pertama. Membangun kesadaran batin (Sadar).

Membangun kesadaran batin adalah hal yang dilakukan pada aktivitas paling awal dari pelaksanaan shalat. Dalam rukun shalat kesadaran awal ini biasa dikenal sebagai “niat.” Rasulullah bersabda; “Innamal a’maalu bin niyyah”, sesungguhnya amal itu tergantung dengan niatnya). Membangun kesadaran atau niat ini bukanlah konsentrasi yang harus dilakukan dengan mengerahkan segenap pikiran, tetapi justru mengosongkan atau melepaskan pikiran dari segala ikatan nafsu dunia, lalu mengelola batin atau jiwa untuk menghadirkan “Aku”.

“Aku” disitu bukanlah fisik. Tubuh ini bukanlah ”aku”, sama seperti ketika menyebutkan ”rumahku” berarti rumahku bukan ”aku”. Karena rumah dan aku adalah dua wujud yang berbeda dan terpisah. Begitu pula tubuhku, tanganku, kepalaku. Semuanya terpisah dengan aku. Jadi tubuh kita yang bergerak bukan ”aku”-nya kita. ”Aku” adalah jiwa. Allah berfirman ”wahai jiwa yang tenang kembalilah ke Rab-mu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya.” (Al-Fajr; 27-28).

Membangun kesadaran ini cukup memerlukan waktu 1 sampai 3 detik saja, yaitu dengan mengucapkan kalimat, “Aku akan berjumpa dengan Sang Khalik” dalam suasana hati yang tenang. Pengucapkan kalimat itu boleh pula dilakukan secara lisan.

Kedua. Sikap pasrah

Setelah mengucapkan “niat”, hal yang dilakukan berikutnya adalah “pasrah”. Dalam pemahaman yang sederhana, pasrah adalah rela. Pasrah merupakan aktivitas untuk mengosongkan atau melepaskan pikiran dari belenggu persoalan duniawi dan merelakan semuanya untuk ditinggalkan, agar “sang aku” mudah bertemu Allah.

Pasrah dapat dilakukan dengan cara mengendorkan otot-otot seluruh tubuh sehingga tidak ada anggota tubuh yang tegang kecuali kedua kaki yang menopang berat badan. Saat pasrah tanpa disadari mata akan terpejam, kepala akan tertunduk, urat-urat di wajah mengendor, kedua bahu dan kedua tangan akan lemas terkulai. Pada saat inilah perasaan tenang dan damai muncul.

Dengan perasaan pasrah maka pikiran akan kosong, tidak ada lagi persoalan yang membebani pikiran, semua telah dilepaskan (direlakan), sehingga menghasilkan perasaan rileks, kemudian jiwa menjadi tenang dan damai.

Ketiga. Nyambung (Shilatun).

Sayid Qutb dalam Tafsir Fi Zhilalil Quran menyebutkan bahwa shalat adalah shilatun (nyambung) dan liqo’ (pertemuan) antara seorang hamba dan Tuhannya. Nyambung (connect/ shilatun) adalah getaran jiwa yang menghubungkan antara seorang hamba dengan Tuhannya.

Nyambung dilakukan setelah tercapai perasaan tenang dan damai akibat dari pasrah, dengan mengucapkan “takbiratul Ihram.” Nyambung adalah aktivitas batin dimana sang aku seolah tengah terbang keatas meninggalkan raga yang telah pasrah menuju kehadirat Sang Khalik. Mi’raj disertai dengan ucapan kalimat “takbiratul Ihram.”

Saat takbiratul ihram dengan mengucapkan kalimat “Allahu Akbar”, rasakan “sang aku” seolah terbang keatas meninggalkan raga yang telah pasrah menuju kehadirat Sang Khalik. Sang aku terbang keatas, berpisah dengan tubuh dan jiwa ini menyaksikan raga itu bukanlah “aku”.

Sengajakan sang aku pergi menuju Allah, menyatu bersama seluruh alam semesta dengan Sang Khalik. Inilah yang oleh para sufi disebut “wahdatul wujud”,yaitu menyatunya jiwa atau ruh yang berasal dari nurullah bersama Sang Khalik sumber nurullah. Wahdatul wujud ini dalam khasanah sufi jawa dikenal dengan istilah Manunggaling Kawula Gusti.
Proses “nyambung” ini bagi pemula membutuhkan waktu beberapa saat antara 5 sampai 10 detik, namun setelah terbiasa proses ini bisa berlangsung cukup singkat antara 1 sampai 2 detik saja. Setelah proses nyambung ini dilalui barulah membaca doa-doa wajib (al-fatihah) dan bisa pula ditambah doa sunah (doa iftitah dan ayat al quran).

Keempat, tuma’ninah sebagai kesadaran disetiap sikap dalam shalat.

Tuma’ninah adalah sikap tenang sejenak untuk membangun kesadaran ilahiyah, yang dilakukan di awal pada setiap sikap dalam rukun shalat (berdiri, rukuk, duduk dan sujud).

Pada setiap setelah selesai melakukan suatu gerakan shalat, yaitu pada awal setiap sikap tubuh dalam rukun shalat, janganlah langsung membaca bacaan (sunah) shalat tetapi lakukan terlebih dahulu tuma’ninah.
Pada saat rukuk kita harus mempunyai kesadaran penuh bahwa kita sedang rukuk dalam rangka menyembah Sang Khalik. Pada saat sujud kita juga harus sadar bahwa kita sedang sujud. Demikian pula saat berdiri, duduk dan seterusnya.
Hakikinya tuma’ninah adalah sarana untuk membangkitkan kesadaran batin dengan cara tenang sejenak untuk melakukan 3 hal yaitu sadar, pasrah, dan nyambung.

Di antara kesalahan besar yang terjadi pada sebagian orang yang shalat adalah tidak melaksanakan tuma’ninah ketika shalat. Padahal tuma’ninah adalah salah satu rukun dalam shalat. Jika tidak melakukan tuma’ninah maka shalatnya tidak sah.

Indikator ketidak khusyu’an.

Esensi khusyu’ adalah “kesadaran”. Sehingga pemahaman shalat yang khusyu’ adalah shalat yang dilakukan dengan penuh kesadaran, sejak saat niat sebelum takbiratul ihram, serta disetiap gerakan dan sikap shalat, hingga salam diakhir shalat, bahwa sepanjang shalat adalah komunikasi batin dengan Allah SWT. Empat hal yang harus dilakukan untuk menggapai kekhusyu’an adalah sadar, pasrah, nyambung dan tuma’ninah.

Agar kita dapat memelihara kekhusyu’an shalat, maka kita harus mengenali tanda-tanda ketidak khusyu’an. Apabila kita mendapati indikator tersebut maka kita harus segera mengembalikannya.
Dua indikator sederhana yang bisa dijadikan sebagai alat kontrol yang menunjukkan shalat yang kita lakukan tidak khusyu’ yaitu, pertama adalah apabila tubuh kita tidak rileks, urat-urat di wajah tegang, atau kedua bahu kaku. Hal itu mengindikasikan hilangnya kepasrahan karena ada sesuatu yang membebani pikiran.

Indikator kedua adalah apabila kita melakukan gerakan dan bacaan shalat secara otomatis tanpa melalui kesadaran jiwa, disebabkan karena rutinitas sehingga hafal seluruh gerakan dan doanya. Hal itu mengindikasikan bahwa shalat yang kita lakukan tanpa tuma’ninah, yang berarti tiadanya kesadaran.

Shalat adalah Mi’raj-nya Orang Mukmin.

Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa “Asshalatu mi’rajul mu’minin”, sesungguhnya shalat itu mi’raj-nya orang mukmin. Mi’raj adalah naiknya jiwa (nafs) seorang hamba menuju ke hadirat Sang Khalik dengan meninggalkan segala ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia.

Jika Nabi Muhammad SAW naik ke langit Sidratul Muntaha (mi’raj) dalam peristiwa Isra Mi’raj untuk bertemu langsung dengan Allah SWT, maka seorang mukmin melakukan mi’raj untuk bertemu dengan Allah SWT melalui sarana shalat.
Shalat adalah satu-satunya perintah yang diterima langsung oleh Nabi Muhammad (tanpa perantara Malaikat Jibril) saat beliau menghadap (mi’raj) kehadirat Allah SWT. Shalat pada hakekatnya adalah sarana mi’raj rohani mukmin untuk menuju kehadirat Allah SWT.

Demikianlah hasil perenungan dari pengalaman dan pencarian untuk menggapai shalat khusyu’ sebagai tips sederhana. Semoga bermanfaat.

Sumber : https://www.kompasiana.com/

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Scroll to Top